Kadindik Jatim : Pendidikan Harus Berjalan Dalam Situasi Apapun

Kepala Dinas Pendikan Jawa Timur (Kadindik Jatim), Wahid Wahyudi

Jatim Newsroom – Kepala Dinas Pendikan Jawa Timur (Kadindik Jatim), Wahid Wahyudi menilai pendidikan harus berjalan dalam situasi apapun, meski saat pandemi.

Hal itu Proposal Wahid, saat Webinar Nasional bertema “Terobosan Sistem Pendidikan Nasional dalam Mencetak Generasi Muda Berwawasan Kebangsaan dan trik pandai Bermental Pejuang” yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Komisariat Provinsi Jawa Timur, Jumat (2/10/2020).

baca juga : 6 Alasan Anda Harus Minum Air Putih

Menurutnya, meski dalam proses belajar tidak bisa dilakukan tatap muka, inovasi dan kreativitas terbukti bisa menjadi solusi.

“Diharapkan pendidikan itu memiliki kabar kusus kontribusi dalam masalah-masalah masalah bangsa jangan malah masalah masalah bangsa,” tegasnya.

Ada beberapa isu yang terjadi di dunia pendidikan Jatim, salah satunya disparitas pendidikan di Jatim bukan hanya terjadi antar lembaga pendidikan saja, tetapi terjadi antar daerah.

Dicontohkan pada 2019 kemarin saat masih ada ujian nasional, hasil Unas SMPN 1 Surabaya rata-rata {90 | sembilan puluh} sementara SMP Galuh Handayani hasil Unasnya rata-rata 30.

“Dua sekolah ini di Surabaya dan hanya berjarak sekitar {3 | tiga} kilo meter saja tapi nilai Unas bisa beda dan sementara ini juga berlaku di daerah lain termasuk daerah daerah,” tuturnya.

Dimasa pandemi siswa dan guru udah harus melakukan proses belajar mengajar jarak jauh. Secara teknis mereka belum siap. “Kondisi ini pasti menimbulkan disparitas dan masalah baru lainnya,” ucap Wahid.

Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kreativitas dari para guru dari tenaga kependidikan, serta masyarakat termasuk siswa, agar tujuan kualitas pendidikan bisa dijalankan.

Persoalan fasilitas ini juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan diantaranya ruang belajar. “Banyak sekolah-sekolah yang kekurangan ruang belajar laboratorium dan mushola dipakai untuk ruang belajar, ini salah satu permasalahan,” katanya.

Saat proses belajar jarak jauh, yang menjadi persoalan diantaranya tidak semua rumah tangga memiliki smartphone, bahkan banyak keluarga yang hanya memiliki satu smartphone sehingga mereka kesulitan karena memiliki anak dua bahkan tiga yang pada waktu yang bersamaan harus menggunakan smartphone.

Persoalan selanjutnya adalah {blank | clean} spot (tidak ada sinyal komunikasi) kondisi daerah kepulauan dan pegunungan seperti di kepulauan Sumenep Madura, Pacitan, dan Trenggalek. “Sumenep memiliki spot {52 | lima puluh dua} pulau yang punya masalah {blank | clean}, kondisi ini semakin menyulitkan belajar jarak jauh,” imbuhnya.

Karena itu, diharapkan semua pihak turut membantu. “Bantuan kartu {internet | web} dari telkomsel untuk siswa sangat membantu, kami juga meminta bantuan ke mereka BTS mini untuk menjangkau daerah daerah terpencil,” ucapnya. (hjr)

baca juga: Modifikasi merupakan salah satu hal yang sering dilakukan pada kendaraan